Secarasingkat, beliau sudah kuat untuk menerima thoriqoh namun masih belum cukup siap sehingga harus melakukan 3 amalan, yaitu: Istiqomah mengukuhkan syariat Beramar Ma'ruf nahi mungkar Menetapi azimah atau kesungguhan dan menjalankan agama secara menyeluruh Bismillahir Rahmanir Rahiim Allah Swt. Berfirman “Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan dalam hidupnya seorang wali yang mursyid” Al Kahfi 17 Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid pembimbing atau guru ruhani merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagaian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual. Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid. Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spoiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid. Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid. Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah “dunia ilmu”, yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan ma’rifat itu sendiri. Jalan ma’rifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah wushul tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif bisikan-bisikan lembut yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal “Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetan”. Oleh sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang ulama tadi lebih tinggi dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja, dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal bathiniyah, sang ulama tentu tidak menguasainya. Sebagaimana ayat al-Qur’an di atas, seorang Syekh atau Mursyid Sufi, mesti memiliki prasyarat yang tidak ringan. Dari konteks ayat di atas menunjukkan bahwa kebutuhan akan bimbingan ruhani bagi mereka yang menempuh jalan sufi, seorang pembimbing ruhani mesti memiliki predikat seorang yang wali, dan seorang yang Mursyid. Dengan kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai keparipurnaan ma’rifatullah sebagai Insan yang Kamil, sekaligus bisa memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para pengikut thariqatnya. Tentu saja, untuk mencari model manusia paripurna setelah wafatnya Rasulullah saw. terutama hari ini, sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau standarnya bukan lagi dengan menggunakan standar rasional-intelektual, atau standar-standar empirisme, seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis misalnya. Bukan demikian. Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana, logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal hati. Karenanya, pada zaman ini, tidak jarang Mursyid Tarekat yang bermunculan, dengan mudah untuk menarik simpati massa, tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai seorang Mursyid yang wali sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak memiliki derajat kewalian, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya. Dalam banyak hal, akhirnya, proses tarekatnya banyak mengalami kendala yang luar biasa, dan akhirnya banyak yang berhenti di tengah jalan persimpangan. Lalu siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih Allah Swt. Mereka adalah para kekasih Allah yang senanatiasa total dalam tha’at ubudiyahnya, dan tidak berkubang dalam kemaksiatan. Dalam al-Qur’an disebutkan “Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak pernah takut, juga tidak pernah susah.” Sebagian tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikit pun yang terpancar dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikit pun merasa gelisah atau susah. Para Wali ini pun memiliki hirarki spiritual yang cukup banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana, mereka ditempatkan dalam Wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan Mukammil di atas. Dalam kitab Al-Mafaakhirul Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin Ayyad, ditegaskan, — dengan mengutip ungkapan Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzily ra, — bahwa syarat-syarat seorang Syekh atau Mursyid yang layak – minimal –ada lima 1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas. 2. Memiliki pengetahuan yang benar. 3. Memiliki cita himmah yang luhur. 4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai. 5. Memiliki matahati yang tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi. Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut 1. Bodoh terhadap ajaran agama. 2. Mengabaikan kehormatan ummat Islam. 3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna. 4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan. 5. Berakhak buruk tanpa peduli dengan perilakunya. Syekh Abu Madyan – ra- menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah Swt. lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang pendusta ruhani 1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan. 2. Mempermainkan thaat kepada Allah. 3. Tamak terhadap sesama makhuk. 4. Kontra terhadap Ahlullah 5. Tidak menghormati sesama ummat Islam sebagaimana diperintahkan Allah Swt. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan, “Siapa yang menunjukkan dirimu kepada dunia, maka ia akan menghancurkan dirimu. Siapa yang menunjukkan dirimu pada amal, ia akan memayahkan dirimu. Dan barangsiapa menunjukkan dirimu kepada Allah Swt. maka, ia pasti menjadi penasehatmu.” Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan, “Janganlah berguru pada seseorang yang yang tidak membangkitkan dirimu untuk menuju kepada Allah dan tidak pula menunjukkan wacananya kepadamu, jalan menuju Allah”. Seorang Mursyid yang hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada para muridnya. Dari kalimat ini menunjukkan bahwa banyak para guru sufi yang tidak mengetahui kadar bathin para muridnya, tidak pula mengetahui masa depan kalbu para muridnya, tidak pula mengetahui rahasia Ilahi di balik nurani para muridnya, sehingga guru ini, dengan mudahnya dan gegabahnya memberikan amaliyah atau tugas-tugas yang sangat membebani fisik dan jiwa muridnya. Jika seperti demikian, guru ini bukanlah guru yang hakiki dalam dunia sufi. Jika secara khusus, karakteristik para Mursyid sedemikian rupa itu, maka secara umum, mereka pun berpijak pada lima 5 prinsip thariqat itu sendiri 1. Taqwa kepada Allah swt. lahir dan batin. 2. Mengikuti Sunnah Nabi Saw. baik dalam ucapan maupun tindakan. 3. Berpaling dari makhluk berkonsentrasi kepada Allah ketika mereka datang dan pergi. 4. Ridha kepada Allah, atas anugerah-Nya, baik sedikit maupun banyak. 5. Dan kembali kepada Allah dalam suka maupun duka. Manifestasi Taqwa, melalaui sikap wara’ dan istiqamah. Perwujudan atas Ittiba’ sunnah Nabi melalui pemeliharaan dan budi pekerti yang baik. Sedangkan perwujudan berpaling dari makhluk melalui kesabaran dan tawakal. Sementara perwujudan ridha kepada Allah, melalui sikap qana’ah dan pasrah total. Dan perwujudan terhadap sikap kembali kepada Allah adalah dengan pujian dan rasa syukur dalam keadaan suka, dan mengembalikan kepada-Nya ketika mendapatkan bencana. Secara keseluruhan, prinsip yang mendasari di atas adalah 1 Himmah yang tinggi, 2 Menjaga kehormatan, 3 Bakti yang baik, 4 Melaksanakan prinsip utama; dan 5 Mengagungkan nikmat Allah Swt. Dari sejumlah ilusttrasi di atas, maka bagi para penempuh jalan sufi hendaknya memilih seorang Mursyid yang benar-benar memenuhi standar di atas, sehingga mampu menghantar dirinya dalam penempuhan menuju kepada Allah Swt. Rasulullah saw. adalah teladan paling paripurna. Ketika hendak menuju kepada Allah dalam Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah Saw. senantiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as. Fungsi Jibril di sini identik dengan Mursyid di mata kaum sufi. Hal yang sama, ketika Nabiyullah Musa as, yang merasa telah sampai kepada-Nya, ternyata harus diuji melalui bimbingan ruhani seorang Nabi Khidir as. Hubungan Musa dan Khidir adalah hubungan spiritual antara Murid dan Syekh. Maka dalam soal-soal rasional Musa as sangat progresif, tetapi beliau tidak sehebat Khidir dalam soal batiniyah. Karena itu lebih penting lagi, tentu menyangkut soal etika hubungan antara Murid dengan Mursyidnya, atau antara pelaku sufi dengan Syekhnya. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani, W. 973 H secara khusus menulis kitab yang berkaitan dengan etika hubungan antara Murid dengan Mursyid tersebut, dalam “Lawaqihul Anwaar al-Qudsiyah fi Ma’rifati Qawa’idus Shufiyah”
Sebuahtarekat tidak dapat dinamakan tarekat jika tidak memiliki guru Mursyid, dan Mursyid tentunya merupakan seseorang yang memiiki sanad keirsyadan yang terhubung hingga Rasulullah saw. dan kemudian melalui Jibril as. dapat terhubung kepada-Nya. Manusia membutuhkan ahli yang dapat membersihkan hati yang kotor, nah, Mursyid-lah sang ahli itu.
Jumat, 26 Mei 2023 0700 WIB Mursyid. Iklan Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara BUMN Erick Thohir resmi menunjuk Mursyid sebagai Direktur Utama PT Waskita Karya Persero Tbk. menggantikan Destiawan Soewardjono. Erick merombak jajaran direksi dan komisaris Waskita Karya usai ditetapkannya Destiawan sebagai tersangka dugaan kasus korupsi. Penetapan Mursyid sebagai Direktur Utama Waskita Karya berlangsung dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan RUPST 2022 di Gedung Waskita Heritage, Jakarta, pada Kamis, 25 Mei 2023. Mursyid sempat menduduki posisi Plt Direktur Utama Waskita Karya saat Destiawan diberhentikan sementara dari jabatannya. Sebelumnya, Mursyid merupakan mantan Direktur Human Capital Management, Pengembangan Sistem dan Legal Waskita Karya. Mursyid pun pernah menjabat sebagai Komisaris Utama PT Waskita Karya Beton Tbk dan mengundurkan diri pada Juni 2022. Mursyid merupakan lulusan dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia menyelesaikan gelar S1 Teknik jurusan Teknik Sipil pada 1993. Kemudian dia meraih gelar S2 jurusan manajemen di universitas yang sama pada 2010. Dia mulai berkarir di PT Wijaya Karya sejak 1993. Murysyid dipercaya menjabat sebagai pemimpin di berbagai proyek. Di antaranya Manajer Konstruksi Proyek Double Track Yogyakarta-Kroya pada 2005 sampai 2008. Kemudian dia menjabat sebagai Manajer Konstruksi Proyek Kanal Timur Paket 24 pada 2008 sampai 2009. Pada 2009-2012, Mursyid menjadi Manajer Proyek Pembangunan Dam Tembesi Tahap 1 Pilot Dyke. Lalu pada pada 2012-2023, dia menjabat posisi Manajer Proyek Pembangunan Dermaga Utara Pelabuhan Laut Batu Ampar. Dia juga pernah menjadi General Manager Departemen Umum 1 pada 2015 sampai Selain menunjuk Direktur Utama yang baru, ... 12 Selanjutnya Artikel Terkait Erick Thohir Ungkap 6 Terobosan Baru dalam Kompetisi Liga 1 2023-2024 1 jam lalu Targetkan Dividen BUMN 2024 Rp 80,2 T, Erick Thohir Sebenarnya Cukup Berat 1 jam lalu Liga 1 Musim 2023-2024 akan Tetapkan Salary Cap, Erick Thohir Agar Klub Tak Bangkrut 8 jam lalu Cak Imin Sebut PKB Terbuka jika PAN Ingin Gabung Koalisi KIR 8 jam lalu PMN Tambahan Injourney Rp 1,19 T Disetujui, Dirut Untuk Penyelesaian Kewajiban di Mandalika 8 jam lalu Emtek Grup Kembali Pegang Hak Siar, Liga 1 2022-2023 Ditayangkan Langsung Indosiar dan Vidio 10 jam lalu Rekomendasi Artikel Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini. Video Pilihan Erick Thohir Ungkap 6 Terobosan Baru dalam Kompetisi Liga 1 2023-2024 1 jam lalu Erick Thohir Ungkap 6 Terobosan Baru dalam Kompetisi Liga 1 2023-2024 Erick Thohir menyebut banyak terdapat terobosan baru untuk Liga 1 2023/2024 musim depan yang akan dimulai pada 1 Juli. Targetkan Dividen BUMN 2024 Rp 80,2 T, Erick Thohir Sebenarnya Cukup Berat 1 jam lalu Targetkan Dividen BUMN 2024 Rp 80,2 T, Erick Thohir Sebenarnya Cukup Berat Kementerian BUMN menyebut dividen yang berpotensi untuk diberikan pada 2024 Rp80,2 triliun. Liga 1 Musim 2023-2024 akan Tetapkan Salary Cap, Erick Thohir Agar Klub Tak Bangkrut 8 jam lalu Liga 1 Musim 2023-2024 akan Tetapkan Salary Cap, Erick Thohir Agar Klub Tak Bangkrut Ketua Umum PSSI Erick Thohir akan menetapkan standar gaji dan pengeluaran untuk klub Liga 1 mulai musim 2023-2024. Cak Imin Sebut PKB Terbuka jika PAN Ingin Gabung Koalisi KIR 8 jam lalu Cak Imin Sebut PKB Terbuka jika PAN Ingin Gabung Koalisi KIR Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengatakan PKB sangat terbuka jika Partai Amanat Nasional PAN akan merapat ke Koalisi KIR PMN Tambahan Injourney Rp 1,19 T Disetujui, Dirut Untuk Penyelesaian Kewajiban di Mandalika 8 jam lalu PMN Tambahan Injourney Rp 1,19 T Disetujui, Dirut Untuk Penyelesaian Kewajiban di Mandalika Usulan Penyertaan Modal Negara PMN tambahan yang diajukan Kementerian BUMN untuk holding BUMN pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia Persero atau dikenal InJourney, sebesar Rp 1,19 triliun telah disetujui DPR RI. Bagaimana alokasi penggunaannya? Emtek Grup Kembali Pegang Hak Siar, Liga 1 2022-2023 Ditayangkan Langsung Indosiar dan Vidio 10 jam lalu Emtek Grup Kembali Pegang Hak Siar, Liga 1 2022-2023 Ditayangkan Langsung Indosiar dan Vidio PT Elang Mahkota Teknologi Emtek Group melalui Indosiar dan Vidio akan kembali menjadi pemegang hak siar Liga 1 2023-2024. Selain Erick Thohir, PAN Juga Munculkan Muhadjir Effendy sebagai Bacawapres 10 jam lalu Selain Erick Thohir, PAN Juga Munculkan Muhadjir Effendy sebagai Bacawapres Politikus Partai Amanat Nasional Zainuddin Maliki mengatakan Muhadjir Effendy masuk dalam bursa cawapres di partainya selain Erick Thohir. Dugaan Lapkeu Waskita dan WIKA Dipoles, Erick Thohir Pasti Kita Lakukan Tindakan Hukum Keras 11 jam lalu Dugaan Lapkeu Waskita dan WIKA Dipoles, Erick Thohir Pasti Kita Lakukan Tindakan Hukum Keras Menteri Badan Usaha Milik Negara BUMN Erick Thohir menanggapi dugaan laporan keuangan BUMN Karya, PT Waskita Karya Persero Tbk dan PT Wijaya Karya Persero Tbk alias WIKA. WSBK dan MotoGP di Mandalika Merugi, Erick Thohir Event yang Memberatkan, Negoisasi Ulang 12 jam lalu WSBK dan MotoGP di Mandalika Merugi, Erick Thohir Event yang Memberatkan, Negoisasi Ulang Sejumlah event internasional di Sirkuit Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat disebut merugi. Menteri Badan Usaha Milik Negara BUMN Erick Thohir menyebut akan melakukan negosiasi ulang terhadap beberapa event tersebut. Jokowi Minta Pengawasan Berorientasi Hasil, BPKP Ekspektasi Tinggi Presiden Harus Kita Jaga 12 jam lalu Jokowi Minta Pengawasan Berorientasi Hasil, BPKP Ekspektasi Tinggi Presiden Harus Kita Jaga Ateh meminta seluruh pegawai BPKP untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan Presiden Jokowi. Silsilahadalah mata rantai Ruhani yang sambung menyambung dari Mursyid yang masih hidup kepada para Mursyid yang telah wafat hingga sampai kepada Rosululloh SAW dan Alloh SWT . وَعَنْ أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ أنَّهُ قَالَ ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : Thoriqoh Shiddiqiyyah saat ini dipimpin oleh seorang Mursyid yaitu Almukarom Syekh Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi putra dari pasangan Hajj Abdul Mu’thi dan Nyai Nashihah. Dilahirkan di desa Losari, Ploso Jombang Jawa Timur, tanggal 14 Oktober 1928. Pendidikan yang pernah ditempuh adalah Madrasah Islamiyah Rejoagung, Ploso, Jombang, Pesantren Rejoso, Peterongan, Jombang, kemudian dilanjutkan di Pesantren Tambakberas, Jombang. Setelah menempuh pendidikan pesantren beliau menjadi guru Madrasah di Lamongan dan pada saat itulah bertemu dengan Syekh Ahmad Syuaib Jamali Al Banteni yang pada akhirnya melimpahkan Ilmu Thoriqoh pada Muchammad Muchtar. Beliau mendapat pendidikan dan pengajaran Thoriqoh dari Syekh Syuaib dalam crass program, atau program intensif lima tahun. Mulai tahun 1959 Kyai Muchtar mengajarkan Thoriqoh Shiddiqiyyah di desa Losari Ploso Jombang sampai sekarang. Pada perkembangan terakhir ini, Thoriqoh Shiddiqiyyah sudah tersebar ke berbagai pelosok tanah air Indonesia bahkan ke negera tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Murid-murid thoriqoh Shiddiyyah terus bertambah setiap hari dan diperkirakan sekarang ini lebih dari lima juta orang. Mereka terdiri dari segala umur, berbagai tingkat sosial ekonomi dan berbagai profesi dan keahlian. Karena pesatnya perkembangan kaum muslimin muslimat yang memerlukan bimbingan pelajaran thoriqoh Shiddiqiyyah, beliau Mursyid, mengangkat wakil-wakil yang disebut Kholifah yang bertugas mewakili Mursyid memberikan bimbingan pada murid-murid Shiddiyyah di seluruh penjuru nusantara. Kholifah yang pertama diangkat adalah Slamet Makmun, sebagai murid pertama, kemudian dikuti Duchan Iskandar, Sunyoto Hasan Achmad, Ahmad Safi’in, Saifu Umar Acmadi, Muhammad Munif dan lain-lain hingga lebih dari 40 orang kholifah. Pimpinan / Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Kyai Muchammad Muchtar bin Hajji Abdul Mu’thi Lahir Losari, Ploso Jombang, 14 Oktober 1928 Alamat Desa Losari Kec. Ploso Kab. Jombang Jawa Timur Pendidikan Madrasah Islamiyah Rejoagung Ploso Jombang Pesantren Rejoso Peterongan Jombang Pesantren Tambakberas, Jombang Sumber Bahan Sosialisasi ORSHID dan Laporan YPS Pusat ke Kejaksaan Negeri Jombang 1989
HabibMuhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (lahir 10 November 1947) adalah seorang Sayyid, Kiai, Ulama, Mursyid dan Dai berkebangsaan Indonesia. Dr. (HC). Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Selain menjadi pendakwah, Habib Luthfi juga menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa Tengah.
Di Kedung Paruk, Sokaraja Banyumas Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah diajarkan oleh Syekh Muhammad Ilyas bin Aly yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Guru Ilyas tahun 1864 M dan sejumlah penerusnya seperti Mbah Malik, KHR Rifa’i Afandi, KHR Abdussalam dan KHR Toriq Arif Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah salah satu thariqah mu’tabarah yang dalam sejarah mempunyai silsilah guru sampai Rasulullah SAW melalui mursyid akbar guru besar Syekh Muhammad Bahaudin al-Uwaisi al-Bukhari Ilyas Kedung ParukSyekh Muhammad Abdul MalikPenerus ThariqahMursyid ThariqahSilsilah Guru-Guru ThariqahMbah Ilyas Kedung ParukSemula Mbah Guru Ilyas hanya mengajarkan thariqah ini di Grumbul Kedung Paruk Desa Ledug Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas Purwokerto. Namun perkembangannya meluas sampai Sokaraja dan daerah-daerah sekitar Karisidenan dan pengembang thariqah yang diajarkan oleh Mbah Guru Ilyas di Kedung Paruk adalah putra beliau dari istri Kedung Paruk Nyai Zainab cucu Syekh Abdus Shomad/Mbah Jombor , yaitu Syekh Muhammad Abdul Malik, sedang yang di Sokaraja adalah putra beliau dari istri Sokaraja Nyai Khatijah putri Kiai Abu Bakar Penghulu Landrat/ Peradilan Agama, yaitu Syekh Muhammad Muhammad Ilyas Mbah Guru Ilyas, memperoleh ijazah sebagai mursyid Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah dari Syekh Sulaiman Zuhdi Al Makki di Jabal Qubes Makkah Saudi Arabia. Beliau berguru memperdalam ilmu tasawuf dan berbagai disiplin ilmu lainnya di tanah suci selama 40 Guru Ilyas adalah salah satu dari sembilan Ulama yang mendapat amanah mengajarkan dan menyebarluaskan thariqah di tanah jawa khususnya dan nusantara Indonesia pada umumnya. Dari sang guru Syekh Sulaiman Zuhdi Al Makki Selama 48 tahun 1864-1912 Mbah Guru Ilyas mengemban amanah mengajarkan dan menyebarluaskan Thariqah Naqsyabandiyah Al Khalidiyah di sekitar Karsidenan Muhammad Abdul MalikBeberapa saat sebelum Mbah Guru Ilyas wafat tahun 1333 H/1912 M, kemursyidan Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah Kedung Paruk diamanahkan kepada Syekh Muhammad Abdul Malik dan kemursyidan di Sokaraja diamanahkan kepada Syekh Muhammad Affandi. Mbah Guru Ilyas wafat dalam usia 147 tahun dimakamkan di komplek Pondok Thariqah Sokaraja Muhammad Abdul Malik yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Malik, di samping mengajarkan mursyid Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah juga mengajarkan mursyid thariqah Syadziliyah dua thariqah terbesar di jugaBanom NU karangjengkol Ziarah Wali se Cilacap- BanyumasHalal Bihalal dan Silaturahim Toriqoh Nahsyabadiyah….Toriqoh Menurut Maulana Habib Lutfi bin YahyaSyekh Muhammad Abdul Malik dikenal sebagai Guru Besar Thariqah An Naqsyabandiyah dan Thariqah As Syadziliyyah Indonesia. Beliau memperoleh ijazah mursyid Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah langsung dari sang ayah Syekh Muhammad Ilyas, sedang ijazah mursyid thariqah Syadziliyyah diperoleh dari Al Qutub Al’Arif Billah As Sayyid Ahmad Nahrawi Al Makki Makkah Saudi samping itu Mbah Malik juga pengamal Thariqah Qadiriyyah, Alawiyyah dan lainnya. Konon Mbah Malik mengamalkan 12 Thariqah. Namun ada empat thariqah yakni Naqsyabandiyah Khalidiyah, Syadziliyah, Qadiriyyah dan Awwaliyyah yang beliau ajarkan kepada Malik memangku kemursyidan thariqah di Kedung Paruk selama 68 tahun 1912-1980 M. Beliau wafat dalam usia 99 tahun, pada hari Kamis malam Jum’at, 2 Jumadil Akhir 1400 H/ 17 April 1980 M dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien Kedung ParukThariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah diturunkan kemursyidannya kepada Syekh Abdul Qadir cucu Mbah Malik dan dua thariqah terbesar Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Syadziliyah diturunkan kemursyidannya kepada murid kesayangannya, yaitu Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Pekalongan Rais Am Jam’iyyah At Thariqah Mu’tabarah An Nahdiyyah Indonesia JATMAN.Penerus ThariqahPenerus Syekh Muhammad Abdul Malik di Kedung Paruk adalah cucu-cucu beliau, karena beliau tidak menurunkan anak laki-laki anak laki-laki satu-satunya yang bernama Ahmad Busyairi wafat ketika masih lajang umur 36 tahun. Satu-satunya anak perempuan Mbah Malik Nyai Chairiyah, menurunkan 9 orang anak 3 anak laki-laki dan 6 anak perempuan.Penerus pertama Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah Syekh Abdul Qadir bin Haji Ilyas Noor cucu nomor 3, memperoleh ijazah mursyid langsung dari Mbah Malik, memangku kemursyidan selama 22 tahun 1980-2002. Syekh Abdul Qadir wafat pada hari senin 5 Muharram 1423 H/ 19 Maret 2002 M, dalam usia 60 tahun dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien Kedung kedua Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah cucu nomor 6, Syekh Sa’id bin Haji Ilyas Noor, Beliau memperoleh ijazah mursyid dari Alhabib Almursyid Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan. Ia memangku kemursyidan selama 2 tahun 2002-2004. Syekh Said wafat pada hari kamis, 3 juli 2004 dalam usia 53 tahun dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien Kedung penerus ketiga Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah cucu nomor 7, Haji Muhammad bin Haji Ilyas Noor. Ia memperoleh ijazah mursyid dari Alhabib Almursyid Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya pada hari senin 1 Rajab 1424 H/ 18 Agustus 2004 M. Saat ini, thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah Kedung Paruk dipimpin oleh Haji Muhammad Ilyas Noor penerus ketiga Mbah pondok pesantren Bani Malik resmi pada tahun 2004. Sebelumnya jam’iyyah thariqah Kedung Paruk memiliki nama Pondok Pesantren Thariqah Robithoh As-shufiyah. Pergantian nama ini untuk mengabadikan Mbah Malik, sebagaimana ungkapan Kiai Muhammad Ilyas nama menjadi pondok pesantren bani malik ini mulai tahun 2004. Dulu awalnya malah tanpa nama ketika tahun 1864-1980. Perubahan nama ini karena ingin mengabadikan Mbah Malik karena Beliau sebagai pendobrak, pemerkasa dakwah di siniBerikut mursyid-mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Al Khalidiyah Ilyas, Wafat 29 Shofar 1334 H 05 Januari, 1916 MKHR Muhammad Affandi, Wafat 1347 H 1929 MKHR Ahmad Rifa’i, Wafat 1388 H 1969 MKHR Abdusalam, Wafat Hari Senin, 13 Rajab, 1435 H 12 Mei 2014 MKHR Toriq Arif Ghuzdewan MSCESilsilah Guru-Guru ThariqahRasululloh Muhammad SAWSahabat Abu Bakar-SiddiqSahabat Salman Al-FarisiSyekh Qashim bin MuhammadSyekh Ja’far ShodiqSyekh Thaifur bin Isa Abu Yazid BustomiSyekh Abi Hasan Ali KhorqoniSyekh Abi Ali Al FadloiSyekh Yusuf HamdaniSyekh Abdul Kholiq GhujdawaniSyekh Arif RiwikariSyekh Mahmud Anjir FaghnawiSyekh Ali RomitaniSyekh Baba SamasiSyekh Amir Kulal KhojikaniyahSyekh Muhammad Bahauddin NaqsyabandiSyekh Alaudin AththorSyekh Ya’qub JarhiSyekh Nashiruddin Ubaidillah AhrorSyekh Muhammad ZahidSyekh Muhammad DarwisySyekh Muhammad KhaujakiSyekh Muhammad Baqi BillahSyekh Ahmad FaruqiSyekh Muhammad Ma’shumSyekh Muhammad SaifudinSyekh Nur Muhammad BudwaniSyekh Habibullah Syamsuddin Jana JananSyekh Abdullah DahlawiSyekh Khalid BaghdadiSyekh Abdullah MakkiSyekh Sulaiman QorimiSyekh Sulaiman Zuhdi Ismail BarusiKHR Muhammad IlyasKHR Afandi IlyasKHR Rifa’i AfandiKHR AbdussalamKHR Toriq Arif GhuzdewanThariqah Naqsyabandiyah Al Khalidiyah Mursyid, Guru & Silsilah, sumber Thariqah Sokaraja KhayaturrohmanIkuti berita NU Cilacap Online NUCOM di Google News, jangan lupa untuk follow Suka Berkomunitas, Suka Kopi, Blogger, Pengembang Website, Praktisi Ruqyah Aswaja, Terapis Cilacap, Team IT Situs Islam Aswaja NU Cilacap Online

Beliaupun mendapatkan ijazah membai'at dan menjadi mursyid. Di antara guru-guru nya itu adalah: 1) Thariqah an-Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. muslimin-muslimat baik yang masih hidup maupun yang mati." Gaya Hidup Sehat Masyarakat Thoriqoh Melawan Pandemi Covid-19. Tokoh 2 years ago. Habib Ahmad bin Ismail bin Yahya, Siapakah Beliau?

THARIQAH Qudusiyah dibawa dan didirikan oleh Bapak Suprapto pada 15 Juli 1992. Sepeninggal beliau pada 13 Agustus 2011, mursyid thariqah ini adalah Bapak Zamzam A. J. Tanuwijaya. Berikut adalah biografi singkat kedua mursyid Thariqah Qudusiyah. Suprapto 1992 — 2011 Bapak Suprapto bin Kadis Darmosuharto, atau lebih dikenal dengan "Suprapto Kadis" oleh para muridnya, adalah seorang putera Jawa kelahiran Desa Karang Tawang, Cilacap, pada 13 April 1929 Masehi 4 Dzulqa’dah 1347 Hijriah. Saat duduk di bangku Shoto Chu Gakko SMP, Bapak Suprapto terlibat dalam perjuangan kemerdekaan melawan pendudukan Jepang. Beliau kembali masuk barisan Tentara Pelajar ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I 1948. Pasca pengakuan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI pada Agustus 1950, Bapak Suprapto melanjutkan pendidikan dengan beasiswa dari negara di Sekolah Teknik setara STM. Pendidikan tinggi sempat ditempuhnya selama dua tahun di Akademi Teknik Nasional di Jakarta, sebelum mendapatkan panggilan untuk mengajar di STM Cilacap dari tahun 1957 hingga 1962. Setelah itu Bapak Suprapto kembali ke Jakarta dan bekerja di Perusahaan Negara PN Peprida, dan turut terlibat dalam berbagai pembangunan proyek pemerintah di beberapa propinsi di Indonesia. Meletusnya peristiwa G-30S/PKI pada 30 September 1965, membuat berbagai proyek pemerintah terhenti. Setelah sempat diperbantukan sebagai Supervisor Listrik dalam pembangunan Gedung CONEFO sekarang Gedung DPR/MPR RI pada tahun 1966, Bapak Suprapto akhirnya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun, keadaan sosial dan politik yang sulit pada masa itu membuat berbagai usahanya tidak berhasil. Di tengah-tengah kesulitan yang sedang dijalaninya, Bapak Suprapto memilih untuk kembali mempelajari agama, hingga pada 15 Juli 1968, menjelang usia 40 tahun, Bapak Suprapto dianugrahi Allah untuk mengenal qudrah-diri, sebagai guru atau mursyid yang membawa ajaran thariqah yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah. Ketika kondisi sosial dan politik di Indonesia berangsur-angsur membaik, pada tahun 1974 Bapak Suprapto bekerja di PT Krakatau Steel, Cilegon, yang beliau jalani hingga pensiun di tahun 1988. Baru setelah itu Bapak Suprapto membuka diri untuk membimbing para murid di jalan suluk. Bertepatan dengan usia 63 tahun, pada tahun 1992 Bapak Suprapto secara resmi membuka thariqah dan bertugas sebagai mursyid. Pada tahun 2008, Bapak Suprapto pindah ke Kota Bandung. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di kota tersebut hingga wafat pada tanggal 13 Agustus 2011 Masehi 13 Ramadhan 1432 Hijriah pada usia 82 tahun. Bapak Suprapto dimakamkan di kaki Gunung Mandalawangi, Desa Mandalasari, Kabupaten Bandung, wilayah Bandung Timur. Zamzam A. J. Tanuwijaya 2011 — Sekarang Bapak Zamzam A. J. Tanuwijaya adalah putera Sunda kelahiran Cimahi, Jawa Barat pada 16 Juli 1965 Masehi 17 Rabbiul Awwal 1385 Hijriah. Mengikuti tugas Ayahnya sebagai seorang dokter, pada tahun 1968-1971 Bapak Zamzam menghabiskan masa kecilnya di Cikajang, lalu pindah ke Garut dan menyelesaikan pendidikan SD serta SMP di kota ini. Pada tahun 1981, Beliau pindah ke Bandung untuk melanjutkan jenjang pendidikan SMA. Pendidikan tinggi ditempuh di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1985, dan hingga sekarang berprofesi sebagai dosen di perguruan tinggi tersebut. Sejak masa SMA, Bapak Zamzam tertarik membaca kitab-kitab karya Imam Al-Ghazali seperti Ihya Ulumuddin, Minhajul-Abidin, dan Misykatul-Anwar. Ketertarikannya kepada ajaran-ajaran sufistik sempat membawanya berkunjung ke Pesantren Al-Ghazali, Bogor, di bawah kepemimpinan Abdullah bin Nuh; dan Pesantren Gentur, Cianjur, yang diasuh oleh Abdulhaq Enoch. Hingga kemudian, saat masih duduk di bangku SMA, Zamzam muda bertemu dengan Bapak Suprapto. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Bapak Zamzam pun mengikuti proses inisiasi suluk melalui Bapak Suprapto pada tanggal 28 Juni 1991 15 Dzulhijjah 1411 Hijriah. Bapak Zamzam termasuk murid generasi awal Thariqah Qudusiyah. Sepeninggal Mursyid Suprapto, Bapak Zamzam menerima mandat ilahiyah untuk melanjutkan tugas kemursyidan di Thariqah Qudusiyah.

Mengikutitradisi keilmuan thoriqoh, murid-murid dari Syaikh Ma'ruf, Jenengan, dan Syaikh Idris, Kacangan, pun rata-rata melanjutkan bai'at dan suluk mereka kepada mursyid-mursyid thoriqoh Syadziliyyah lain yang saat ini masih hidup. Meski ada juga yang secara kasuistik justru mengibarkan bendera kemursyidan sendiri.

KH. M. Baidowi Muslich dalam Pertemuan Mursyid Khalifah, Badal, dan Muqoddam di PP Miftahul Huda, Gading, Malang Dok. PPMHAda yang mengatakan thoriqoh hanyalah forum dzikir yang dilembagakan, bid'ah dan tidak ada dasarnya. Padahal, thoriqoh sebenarnya merupakan perilaku kehidupan Rasulullah Saw sendiri yang penuh keruhanian; yaitu ibadah, perbaikan akhlak, zuhud, hidup sederhana, bekerja keras, dan sosial. Namun hati-hati, tidak semua thoriqoh benar. Hanya thoriqoh yang mu'tabaroh bersumber dari nabi muhammad Saw yang dapat Juga Silsilah Ijazah Mursyid Thoriqoh Kyai Muhammad YahyaSeorang pemikir Islam modern, Fazluh Rahman, mengomentari thoriqoh qodiriyah; bahwa thoriqoh yang didirikan oleh syaikh Abdul Qodir Jaelani itu mempunyai asas-asas bercita-cita tinggi, melaksanakan cita-cita, membesarkan nikmat, memelihara kehormatan dan memperbaiki khidmat kepada Allah Swt. Sedangkan Naqsabandiyah yang didirikan oleh Muhammad bin Bahaudin al Uwasi al Bukhori itu mempuyai dasar-dasar yang kuat dan berpegang kepada ahlussunnah, hidup sederhana, mengerjakan agama dengan sungguh-sungguh mengikuti akhlak Rasulullah Saw meninggalkan semua selain Allah Swt, menyembunyikan dzikir, selalu ingat Allah Swt, selalu menyendiri dalam keramaian bersama Allah Swt, merasa diawasi Allah Swt, tidak meringan-ringankan agama dan tarikan nafas yang selalu mengingat Allah yang diajarkan Rasulullah SawSecara sederhana thoriqoh merupakan cara mendekatkan diri taqorrub kepada Allah Swt. Yaitu dengan menjalankan agama islam dengan lebih hati-hati dan teliti, seperti menjauhi perbuatan syubhat, melaksanakan keutamaan-keutamaan sesudah melaksanakan kewajiban-kewajiban seperti mengerjakan sholat tahajjud, sholat sunnah rawatib dan sebagainya. Serta sungguh-sungguh mengerjakan ibadah seperti puasa senin dan kamis, rajin membaca al-qur'an, sholawat, dzikir, tasbih, istighfar dan dasarnya, thoriqoh merupakan ilmu yang digunakan untuk mengetahui hal ihwal nafsu dan sifat-sifat hati. Dengan thoriqoh dapat diketahui mana sifat yang madzmumah tercela menurut syara' kemudian di jauhinya, dan mana sifat yang mahmudah terpuji menurut syara' kemudian diamalkan. Dengan demikian thoriqoh merupakan amaliyah tasawuf yang bertujuan untuk mencari ridho Allah al qur'an dinyatakan bahwa "Jika mereka tetap istiqomah menempuh jalan itu thoriqoh, maka benar-benar akan kami berikan air yang segar rizki yang berlimpah". 16. Ayat ini menjelaskan bahwa jika seorang hamba Allah Swt istiqomah menjalankan wirid, dzikir, muroqobah, musyahadah dan menjalankan beberapa sifat mahmudah terpuji serta meninggalkan beberapa sifat madzmumah tercela yang semuanya bertujuan hanya memohon ridho Allah Swt, maka Allah Swt pasti memenuhi hati mereka dengan asror rahasia dan ma'rifah ilahiyah serta mahabbah ilah. Tafsir Showi juz 4 216 .Ketika wafat Rasululah sudah dekat, para sahabat menangis seraya berkata, "Wahai Rasululah, engkau utusan Allah pada kita dan mengukuhkan perkumpulan kita dan menjadi pusat urusan-urusan kita. Ketika engkau meninggalkan kami, maka kepada siapa kami kembali?" jawab Rasulullah Saw. "Aku telah meninggalkan dua pusaka yaitu syariat islam at thoriqoh al baidho' yaitu thoriqoh yang bersih yang sanadnya muttasil pada Rasulullah. Dan aku telah meninggalkan untukmu dua petunjuk, yaitu petunjuk yang dapat berbicara yakni al-Qur'an, dan petunjuk yang tidak dapat berbicara yakni maut. Apabila ada sesuatu hal yang menyulitkan kalian, maka kembalilah kalian pada al Qur'an dan al Hadits. Dan ketika keras hatimu yakni tidak bisa menerima nasihat, maka lemaskanlah hatimu dengan memikirkan hal ihwal orang yang sudah meninggal." HR Abdullah Bin Mas'ud ra.Dalam suatu hadits dari Saddad Bin Aus dan 'ubadah Bin Shomit ra diriwayatkan, keduanya mengatakan, "apakah di antara kamu ada orang lain ?" kami menjawab, "tidak ada wahai Rasulullah". Kemudian Rasulullah menyuruh agar pintu ditutup, kemudian Rasulullah Saw bersabda, "Angkatlah kedua tanganmu dan ucapkan kalimah Laa ilaha illah".Thoriqoh para SahabatSemua sahabat Rasulullah Saw melakukan thoriqoh, tidak hanya sahabat Abu Bakar dan sahabat Ali bin Abi Tholib saja. Sahabat yang lain juga melakukan thoriqoh, namun caranya berbeda-beda sehingga kemasyhurannyapun berbeda-beda pula. Seperti Umar bin Khattab yang masyhur dengan sebutan ahli as sholabah fiddin kuat agamanya, Utsman bin Affan masyhur dengan sebutan ahli syiddatul haya' pemalu. Sayyidina hamzah dan khalid bin Walid masyhur dengan ahli faroid, Abdullah bin Mas'ud masyhur dengan ahli qiro'at, Abu Dzar masyhur dengan ahli zuhud, Muadz bin Jabal masyhur sebagai ahli fiqh ilmu halal dan haram dan banyak lagi bidang-bidang yang dijalani para sahabat suluk kepada Allah Abu Bakar ra dan Sayyidina Ali keduanya adalah sahabat yang masyhur ahli dzikir nafi-itsbat dan dzikir ismu-dzat. Akan tetapi sayyidina Ali fana'nya dalam dzikir nafi-itsbat menyebut kalimah laa ilaaha illah, sedangkan Abu Bakar fana'nya di dalam dzikir ismu-dzat menyebut nama Allah, Allah, Allah. Dzikir nafi'-isbat dan ismu-dzat inilah yang kemudian berkembang secara turun-temurun melahirkan thoriqoh-thoriqoh mu' ThariqohTujuan melakukan thariqoh adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan mencari ridho-Nya, sebagaimana do'a yang dibaca setelah dzikir Qodiriyah dan Naqsabandiyah yang artinya "Ya Allah, Engkaulah yang aku tuju, dan keridhoanMu yang aku cari. Berikan kepadaku mahabbah rasa cinta dan ma'rifat kepadaMu". Dengan melakukan ilmu thoriqoh, seorang saalik orang yang menetapkan hati menempuh jalan akhirat dengan selamat berupaya semaksimal mungkin untuk bisa sampai kepada derajat mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela. Maka dari itu tujuan akhir melaksanakan ilmu thariqoh adalah agar seseorang bisa menghiasi hatinya dengan sifat dzikir, muraqabah, mahabbah, ma'rifat dan musyahadah kepada Allah thariqoh lebih utama dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain. Alasannya, ilmu thariqoh itu bisa membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, hina menurut syara' serta membawa hati pada sifat ma'rifat dan musyahadah kepada Allah Swt. Adapun posisi ilmu thoriqoh diantara ilmu-ilmu yang lain adalah bahwa ilmu thoriqoh sebagai asal dari setiap ilmu. Sedangkan ilmu-ilmu yang lain sebagai cabang dari ilmu thoriqoh. Kitab Miftahul Jannah.Hubungan syariat dengan thoriqoh bagaikan jasad dengan ruhnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Ruh tanpa jasad tidak mungkin bisa berdiri tegak sebagaimana layaknya manusia. Sebaliknya, jasad tanpa ruh adalah mayat. Thoriqoh digunakan manusia untuk menghasilkan kesempurnaan keikhlasan. Sedangkan ikhlas ini merupakan amal ibadah tersendiri yang hanya bisa dikerjakan oleh hati. Adapun syari'at digunakan untuk membangun rukun-rukun agama secara menggabungkan syari'at dan thoriqoh nantinya akan diperoleh amal ibadah yang dilaksanakan dengan cara yang benar dan hati yang ikhlas. Dengan demikian mengerjakan shalat fardlu ilmu syariat dan memahami ilmu menjadikan hati yang ikhlas merupakan kewajiban yang tidak diragukan lagi. Adapun cara untuk menghasilkan kedua ilmu tersebut, sekaligus untuk menghindarkan diri dari lupa terhadap Allah Swt serta menghindari tersesatnya hati adalah dengan melaksanakan dzikir kepada Allah Swt. Sebab Allah sudah menyatakan bahwa dzikir itulah yang akan menentramkan hati manusia. "Orang-orang mu'min hatinya tentram karena mengingat Allah. Ingatlah! karena dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram." QS. Ar-Ra'du 28.Hukum mengikuti thoriqohHukum mengikuti thoriqoh ini diperinci sebagai berikut Apabila belajar ilmu thariqoh untuk membersihkan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, maka hukumnya fardlu 'ain bagi setiap mukallaf. Adapun berbai'at kepada seorang guru mursyid hukumnya sunnah nabawiyyah. Kemudian melaksanakan thoriqoh bagi merka yang sudah berbai'at hukumnya wajib. Adapun mentalqin murid dengan dzikir dan cara-cara dzikir tertentu oleh guru mursyid hukumnya dan cara menjalankan thoriqohPada mulanya seseorang yang masuk thoriqoh sudah harus memahami I'tiqod 50 atau yang lebih dikenal dengan aqo'id seket dasar-dasar aqidah berupa sifat wajib dan sifat muhal Allah, sifat wajib dan sifat muhal bagi para Rasul, sifat jaiz Allah dan para Rasul serta sudah mengerti ilmu syari'at secara keseluruhan dan mengamalkannya. Namun mengingat banyaknya ajaran yang menyesatkan umat Islam dan menyeret umat kepada kesyirikan seperti thariqoh bathilah yang silsilahnya tidak sampai pada Rasulullah Saw, maka mursyid thariqoh mu'tabaroh memberikan kemudahan-kemudahan. Umat Islam yang belum sempurna ilmu dan amaliyah syari'atnya bisa mengikuti bai'at janji melaksanakan dzikir thariqoh secara benar dengan syarat harus memperdalam ilmu syari'at setelah bai'at. Thoriqoh dan syari'at kemudian harus berjalan bersama-sama dengan senantiasa memperdalam ilmu dan meningkatkan amal. Inilah model dakwah ulama-ulama contoh thoriqoh mu'tabaroh adalah thoriqoh qodiriyah. Kaifiyah atau cara menjalankan thariqoh ini adalah setiap selesai shalat fardlu membaca dzikir Laa illaha illallaah sebanyak 165 kali. Amaliyah ini kemudian harus diikuti dengan sungguh-sungguh menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala thariqoh hanyalah jalan menuju Allah Swt. Thariqoh tidak hanya satu atau dua macam, tetapi banyak. Sebanyak bilangan manusia yang berjalan menuju Allah Swt.* Penulis adalah Kepala PP. Miftahul Huda, Gading Kasri – Malang dan ketua MUI Kota Malang.

8O6c1.
  • 1x4wfhfn9w.pages.dev/32
  • 1x4wfhfn9w.pages.dev/206
  • 1x4wfhfn9w.pages.dev/270
  • 1x4wfhfn9w.pages.dev/581
  • 1x4wfhfn9w.pages.dev/514
  • 1x4wfhfn9w.pages.dev/426
  • 1x4wfhfn9w.pages.dev/264
  • 1x4wfhfn9w.pages.dev/374
  • mursyid thoriqoh yang masih hidup