Beliaupun mendapatkan ijazah membai'at dan menjadi mursyid. Di antara guru-guru nya itu adalah: 1) Thariqah an-Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. muslimin-muslimat baik yang masih hidup maupun yang mati." Gaya Hidup Sehat Masyarakat Thoriqoh Melawan Pandemi Covid-19. Tokoh 2 years ago. Habib Ahmad bin Ismail bin Yahya, Siapakah Beliau?
THARIQAH Qudusiyah dibawa dan didirikan oleh Bapak Suprapto pada 15 Juli 1992. Sepeninggal beliau pada 13 Agustus 2011, mursyid thariqah ini adalah Bapak Zamzam A. J. Tanuwijaya. Berikut adalah biografi singkat kedua mursyid Thariqah Qudusiyah. Suprapto 1992 — 2011 Bapak Suprapto bin Kadis Darmosuharto, atau lebih dikenal dengan "Suprapto Kadis" oleh para muridnya, adalah seorang putera Jawa kelahiran Desa Karang Tawang, Cilacap, pada 13 April 1929 Masehi 4 Dzulqa’dah 1347 Hijriah. Saat duduk di bangku Shoto Chu Gakko SMP, Bapak Suprapto terlibat dalam perjuangan kemerdekaan melawan pendudukan Jepang. Beliau kembali masuk barisan Tentara Pelajar ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I 1948. Pasca pengakuan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI pada Agustus 1950, Bapak Suprapto melanjutkan pendidikan dengan beasiswa dari negara di Sekolah Teknik setara STM. Pendidikan tinggi sempat ditempuhnya selama dua tahun di Akademi Teknik Nasional di Jakarta, sebelum mendapatkan panggilan untuk mengajar di STM Cilacap dari tahun 1957 hingga 1962. Setelah itu Bapak Suprapto kembali ke Jakarta dan bekerja di Perusahaan Negara PN Peprida, dan turut terlibat dalam berbagai pembangunan proyek pemerintah di beberapa propinsi di Indonesia. Meletusnya peristiwa G-30S/PKI pada 30 September 1965, membuat berbagai proyek pemerintah terhenti. Setelah sempat diperbantukan sebagai Supervisor Listrik dalam pembangunan Gedung CONEFO sekarang Gedung DPR/MPR RI pada tahun 1966, Bapak Suprapto akhirnya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun, keadaan sosial dan politik yang sulit pada masa itu membuat berbagai usahanya tidak berhasil. Di tengah-tengah kesulitan yang sedang dijalaninya, Bapak Suprapto memilih untuk kembali mempelajari agama, hingga pada 15 Juli 1968, menjelang usia 40 tahun, Bapak Suprapto dianugrahi Allah untuk mengenal qudrah-diri, sebagai guru atau mursyid yang membawa ajaran thariqah yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah. Ketika kondisi sosial dan politik di Indonesia berangsur-angsur membaik, pada tahun 1974 Bapak Suprapto bekerja di PT Krakatau Steel, Cilegon, yang beliau jalani hingga pensiun di tahun 1988. Baru setelah itu Bapak Suprapto membuka diri untuk membimbing para murid di jalan suluk. Bertepatan dengan usia 63 tahun, pada tahun 1992 Bapak Suprapto secara resmi membuka thariqah dan bertugas sebagai mursyid. Pada tahun 2008, Bapak Suprapto pindah ke Kota Bandung. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di kota tersebut hingga wafat pada tanggal 13 Agustus 2011 Masehi 13 Ramadhan 1432 Hijriah pada usia 82 tahun. Bapak Suprapto dimakamkan di kaki Gunung Mandalawangi, Desa Mandalasari, Kabupaten Bandung, wilayah Bandung Timur. Zamzam A. J. Tanuwijaya 2011 — Sekarang Bapak Zamzam A. J. Tanuwijaya adalah putera Sunda kelahiran Cimahi, Jawa Barat pada 16 Juli 1965 Masehi 17 Rabbiul Awwal 1385 Hijriah. Mengikuti tugas Ayahnya sebagai seorang dokter, pada tahun 1968-1971 Bapak Zamzam menghabiskan masa kecilnya di Cikajang, lalu pindah ke Garut dan menyelesaikan pendidikan SD serta SMP di kota ini. Pada tahun 1981, Beliau pindah ke Bandung untuk melanjutkan jenjang pendidikan SMA. Pendidikan tinggi ditempuh di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1985, dan hingga sekarang berprofesi sebagai dosen di perguruan tinggi tersebut. Sejak masa SMA, Bapak Zamzam tertarik membaca kitab-kitab karya Imam Al-Ghazali seperti Ihya Ulumuddin, Minhajul-Abidin, dan Misykatul-Anwar. Ketertarikannya kepada ajaran-ajaran sufistik sempat membawanya berkunjung ke Pesantren Al-Ghazali, Bogor, di bawah kepemimpinan Abdullah bin Nuh; dan Pesantren Gentur, Cianjur, yang diasuh oleh Abdulhaq Enoch. Hingga kemudian, saat masih duduk di bangku SMA, Zamzam muda bertemu dengan Bapak Suprapto. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Bapak Zamzam pun mengikuti proses inisiasi suluk melalui Bapak Suprapto pada tanggal 28 Juni 1991 15 Dzulhijjah 1411 Hijriah. Bapak Zamzam termasuk murid generasi awal Thariqah Qudusiyah. Sepeninggal Mursyid Suprapto, Bapak Zamzam menerima mandat ilahiyah untuk melanjutkan tugas kemursyidan di Thariqah Qudusiyah.
Mengikutitradisi keilmuan thoriqoh, murid-murid dari Syaikh Ma'ruf, Jenengan, dan Syaikh Idris, Kacangan, pun rata-rata melanjutkan bai'at dan suluk mereka kepada mursyid-mursyid thoriqoh Syadziliyyah lain yang saat ini masih hidup. Meski ada juga yang secara kasuistik justru mengibarkan bendera kemursyidan sendiri.
KH. M. Baidowi Muslich dalam Pertemuan Mursyid Khalifah, Badal, dan Muqoddam di PP Miftahul Huda, Gading, Malang Dok. PPMHAda yang mengatakan thoriqoh hanyalah forum dzikir yang dilembagakan, bid'ah dan tidak ada dasarnya. Padahal, thoriqoh sebenarnya merupakan perilaku kehidupan Rasulullah Saw sendiri yang penuh keruhanian; yaitu ibadah, perbaikan akhlak, zuhud, hidup sederhana, bekerja keras, dan sosial. Namun hati-hati, tidak semua thoriqoh benar. Hanya thoriqoh yang mu'tabaroh bersumber dari nabi muhammad Saw yang dapat Juga Silsilah Ijazah Mursyid Thoriqoh Kyai Muhammad YahyaSeorang pemikir Islam modern, Fazluh Rahman, mengomentari thoriqoh qodiriyah; bahwa thoriqoh yang didirikan oleh syaikh Abdul Qodir Jaelani itu mempunyai asas-asas bercita-cita tinggi, melaksanakan cita-cita, membesarkan nikmat, memelihara kehormatan dan memperbaiki khidmat kepada Allah Swt. Sedangkan Naqsabandiyah yang didirikan oleh Muhammad bin Bahaudin al Uwasi al Bukhori itu mempuyai dasar-dasar yang kuat dan berpegang kepada ahlussunnah, hidup sederhana, mengerjakan agama dengan sungguh-sungguh mengikuti akhlak Rasulullah Saw meninggalkan semua selain Allah Swt, menyembunyikan dzikir, selalu ingat Allah Swt, selalu menyendiri dalam keramaian bersama Allah Swt, merasa diawasi Allah Swt, tidak meringan-ringankan agama dan tarikan nafas yang selalu mengingat Allah yang diajarkan Rasulullah SawSecara sederhana thoriqoh merupakan cara mendekatkan diri taqorrub kepada Allah Swt. Yaitu dengan menjalankan agama islam dengan lebih hati-hati dan teliti, seperti menjauhi perbuatan syubhat, melaksanakan keutamaan-keutamaan sesudah melaksanakan kewajiban-kewajiban seperti mengerjakan sholat tahajjud, sholat sunnah rawatib dan sebagainya. Serta sungguh-sungguh mengerjakan ibadah seperti puasa senin dan kamis, rajin membaca al-qur'an, sholawat, dzikir, tasbih, istighfar dan dasarnya, thoriqoh merupakan ilmu yang digunakan untuk mengetahui hal ihwal nafsu dan sifat-sifat hati. Dengan thoriqoh dapat diketahui mana sifat yang madzmumah tercela menurut syara' kemudian di jauhinya, dan mana sifat yang mahmudah terpuji menurut syara' kemudian diamalkan. Dengan demikian thoriqoh merupakan amaliyah tasawuf yang bertujuan untuk mencari ridho Allah al qur'an dinyatakan bahwa "Jika mereka tetap istiqomah menempuh jalan itu thoriqoh, maka benar-benar akan kami berikan air yang segar rizki yang berlimpah". 16. Ayat ini menjelaskan bahwa jika seorang hamba Allah Swt istiqomah menjalankan wirid, dzikir, muroqobah, musyahadah dan menjalankan beberapa sifat mahmudah terpuji serta meninggalkan beberapa sifat madzmumah tercela yang semuanya bertujuan hanya memohon ridho Allah Swt, maka Allah Swt pasti memenuhi hati mereka dengan asror rahasia dan ma'rifah ilahiyah serta mahabbah ilah. Tafsir Showi juz 4 216 .Ketika wafat Rasululah sudah dekat, para sahabat menangis seraya berkata, "Wahai Rasululah, engkau utusan Allah pada kita dan mengukuhkan perkumpulan kita dan menjadi pusat urusan-urusan kita. Ketika engkau meninggalkan kami, maka kepada siapa kami kembali?" jawab Rasulullah Saw. "Aku telah meninggalkan dua pusaka yaitu syariat islam at thoriqoh al baidho' yaitu thoriqoh yang bersih yang sanadnya muttasil pada Rasulullah. Dan aku telah meninggalkan untukmu dua petunjuk, yaitu petunjuk yang dapat berbicara yakni al-Qur'an, dan petunjuk yang tidak dapat berbicara yakni maut. Apabila ada sesuatu hal yang menyulitkan kalian, maka kembalilah kalian pada al Qur'an dan al Hadits. Dan ketika keras hatimu yakni tidak bisa menerima nasihat, maka lemaskanlah hatimu dengan memikirkan hal ihwal orang yang sudah meninggal." HR Abdullah Bin Mas'ud ra.Dalam suatu hadits dari Saddad Bin Aus dan 'ubadah Bin Shomit ra diriwayatkan, keduanya mengatakan, "apakah di antara kamu ada orang lain ?" kami menjawab, "tidak ada wahai Rasulullah". Kemudian Rasulullah menyuruh agar pintu ditutup, kemudian Rasulullah Saw bersabda, "Angkatlah kedua tanganmu dan ucapkan kalimah Laa ilaha illah".Thoriqoh para SahabatSemua sahabat Rasulullah Saw melakukan thoriqoh, tidak hanya sahabat Abu Bakar dan sahabat Ali bin Abi Tholib saja. Sahabat yang lain juga melakukan thoriqoh, namun caranya berbeda-beda sehingga kemasyhurannyapun berbeda-beda pula. Seperti Umar bin Khattab yang masyhur dengan sebutan ahli as sholabah fiddin kuat agamanya, Utsman bin Affan masyhur dengan sebutan ahli syiddatul haya' pemalu. Sayyidina hamzah dan khalid bin Walid masyhur dengan ahli faroid, Abdullah bin Mas'ud masyhur dengan ahli qiro'at, Abu Dzar masyhur dengan ahli zuhud, Muadz bin Jabal masyhur sebagai ahli fiqh ilmu halal dan haram dan banyak lagi bidang-bidang yang dijalani para sahabat suluk kepada Allah Abu Bakar ra dan Sayyidina Ali keduanya adalah sahabat yang masyhur ahli dzikir nafi-itsbat dan dzikir ismu-dzat. Akan tetapi sayyidina Ali fana'nya dalam dzikir nafi-itsbat menyebut kalimah laa ilaaha illah, sedangkan Abu Bakar fana'nya di dalam dzikir ismu-dzat menyebut nama Allah, Allah, Allah. Dzikir nafi'-isbat dan ismu-dzat inilah yang kemudian berkembang secara turun-temurun melahirkan thoriqoh-thoriqoh mu' ThariqohTujuan melakukan thariqoh adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan mencari ridho-Nya, sebagaimana do'a yang dibaca setelah dzikir Qodiriyah dan Naqsabandiyah yang artinya "Ya Allah, Engkaulah yang aku tuju, dan keridhoanMu yang aku cari. Berikan kepadaku mahabbah rasa cinta dan ma'rifat kepadaMu". Dengan melakukan ilmu thoriqoh, seorang saalik orang yang menetapkan hati menempuh jalan akhirat dengan selamat berupaya semaksimal mungkin untuk bisa sampai kepada derajat mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela. Maka dari itu tujuan akhir melaksanakan ilmu thariqoh adalah agar seseorang bisa menghiasi hatinya dengan sifat dzikir, muraqabah, mahabbah, ma'rifat dan musyahadah kepada Allah thariqoh lebih utama dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain. Alasannya, ilmu thariqoh itu bisa membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, hina menurut syara' serta membawa hati pada sifat ma'rifat dan musyahadah kepada Allah Swt. Adapun posisi ilmu thoriqoh diantara ilmu-ilmu yang lain adalah bahwa ilmu thoriqoh sebagai asal dari setiap ilmu. Sedangkan ilmu-ilmu yang lain sebagai cabang dari ilmu thoriqoh. Kitab Miftahul Jannah.Hubungan syariat dengan thoriqoh bagaikan jasad dengan ruhnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Ruh tanpa jasad tidak mungkin bisa berdiri tegak sebagaimana layaknya manusia. Sebaliknya, jasad tanpa ruh adalah mayat. Thoriqoh digunakan manusia untuk menghasilkan kesempurnaan keikhlasan. Sedangkan ikhlas ini merupakan amal ibadah tersendiri yang hanya bisa dikerjakan oleh hati. Adapun syari'at digunakan untuk membangun rukun-rukun agama secara menggabungkan syari'at dan thoriqoh nantinya akan diperoleh amal ibadah yang dilaksanakan dengan cara yang benar dan hati yang ikhlas. Dengan demikian mengerjakan shalat fardlu ilmu syariat dan memahami ilmu menjadikan hati yang ikhlas merupakan kewajiban yang tidak diragukan lagi. Adapun cara untuk menghasilkan kedua ilmu tersebut, sekaligus untuk menghindarkan diri dari lupa terhadap Allah Swt serta menghindari tersesatnya hati adalah dengan melaksanakan dzikir kepada Allah Swt. Sebab Allah sudah menyatakan bahwa dzikir itulah yang akan menentramkan hati manusia. "Orang-orang mu'min hatinya tentram karena mengingat Allah. Ingatlah! karena dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram." QS. Ar-Ra'du 28.Hukum mengikuti thoriqohHukum mengikuti thoriqoh ini diperinci sebagai berikut Apabila belajar ilmu thariqoh untuk membersihkan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, maka hukumnya fardlu 'ain bagi setiap mukallaf. Adapun berbai'at kepada seorang guru mursyid hukumnya sunnah nabawiyyah. Kemudian melaksanakan thoriqoh bagi merka yang sudah berbai'at hukumnya wajib. Adapun mentalqin murid dengan dzikir dan cara-cara dzikir tertentu oleh guru mursyid hukumnya dan cara menjalankan thoriqohPada mulanya seseorang yang masuk thoriqoh sudah harus memahami I'tiqod 50 atau yang lebih dikenal dengan aqo'id seket dasar-dasar aqidah berupa sifat wajib dan sifat muhal Allah, sifat wajib dan sifat muhal bagi para Rasul, sifat jaiz Allah dan para Rasul serta sudah mengerti ilmu syari'at secara keseluruhan dan mengamalkannya. Namun mengingat banyaknya ajaran yang menyesatkan umat Islam dan menyeret umat kepada kesyirikan seperti thariqoh bathilah yang silsilahnya tidak sampai pada Rasulullah Saw, maka mursyid thariqoh mu'tabaroh memberikan kemudahan-kemudahan. Umat Islam yang belum sempurna ilmu dan amaliyah syari'atnya bisa mengikuti bai'at janji melaksanakan dzikir thariqoh secara benar dengan syarat harus memperdalam ilmu syari'at setelah bai'at. Thoriqoh dan syari'at kemudian harus berjalan bersama-sama dengan senantiasa memperdalam ilmu dan meningkatkan amal. Inilah model dakwah ulama-ulama contoh thoriqoh mu'tabaroh adalah thoriqoh qodiriyah. Kaifiyah atau cara menjalankan thariqoh ini adalah setiap selesai shalat fardlu membaca dzikir Laa illaha illallaah sebanyak 165 kali. Amaliyah ini kemudian harus diikuti dengan sungguh-sungguh menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala thariqoh hanyalah jalan menuju Allah Swt. Thariqoh tidak hanya satu atau dua macam, tetapi banyak. Sebanyak bilangan manusia yang berjalan menuju Allah Swt.* Penulis adalah Kepala PP. Miftahul Huda, Gading Kasri – Malang dan ketua MUI Kota Malang.
8O6c1.